Mereka yang menyukai Paranormal Activity
– sebuah film horor yang dirilis pada tahun 2007 dan membuktikan bahwa
dengan bujet pembuatan, naskah dan latar belakang lokasi cerita yang
minimal, Anda masih dapat menghasilkan sebuah kengerian dan keuntungan
komersial yang maksimal – pada umumnya setuju bahwa sekuel film
tersebut, Paranormal Activity 2
(2010), adalah sebuah sekuel yang malas, jauh dari kesan inovatif dan
sama sekali gagal dalam menyamai kengerian yang mampu ditunjukkan film
perdananya terdahulu. Wajar jika kemudian banyak pihak yang menilai
keberadaan Paranormal Activity 3 tak lebih hanyalah sebagai sebuah mesin pengeruk keuntungan komersial bagi studio yang merilis film ini. Well…
Anda memang tidak dapat menyangkal kebenaran pendapat tersebut. Namun
dengan pengarahan yang kini berada di tangan Henry Joost dan Ariel
Schulman (Catfish, 2010), Paranormal Activity 3 mampu tampil lebih segar dan, secara mengejutkan, tampil lebih baik dari dua seri film ini sebelumnya.
Jika Paranormal Activity
berkisah mengenai pasangan Katie (Katie Featherston) dan Micah (Micah
Sloat) yang dihantui oleh sosok supranatural yang mengganggu kehidupan
mereka dan Paranormal Activity 2 adalah sebuah prekuel bagi Paranormal Activity
yang mengisahkan bagaimana kakak Katie, Kristi (Sprague Grayden),
memiliki keterlibatan dalam berbagai misteri yang menghantui kehidupan
Katie, maka Paranormal Activity 3 akan mengisahkan kepada para
penontonnya bagaimana baik Katie dan Kristi sebenarnya telah lama
memiliki akar permasalahan supranatural dalam diri mereka. Paranormal Activity 3 merupakan prekuel dari dua seri sebelumnya dan akan mengisahkan mengenai masa kecil Katie dan Kristi.
Berlatar belakang kisah di tahun 1988, Paranormal Activity 3
memfokuskan kisahnya pada Julie (Lauren Bittner) dan kedua puterinya,
Kristi (Jessica Tyler Brown) dan Katie (Chloe Csengery), serta kekasih
Julie, Dennis (Chris Smith). Walau ibunya, Lois (Hallie Foote), kurang
begitu menyetujui hubungan Julie dengan Dennis karena pekerjaan Dennis
yang dinilai akan kurang mampu untuk mendukung kehidupan ekonomi Julie,
namun Julie sangat mencintai Dennis, terlebih karena baik Kristi dan
Katie telah akrab dan menerima Dennis dengan baik dalam kehidupan
mereka. Dennis adalah seorang videografer, yang menghasilkan uang dari
memproduksi video-video pernikahan dan sebagainya. Ia sangat terobsesi
pada kamera video dan selalu membawa serta merekam momen apapun yang
terjadi di sekelilingnya.
Obsesi tersebut, tentu saja, menjadi
faktor yang penting dan sangat dibutuhkan ketika pada suatu saat, Dennis
merasa rumah yang ia dan Julie tempati seringkali memberikan efek
supranatural yang tidak wajar. Ini masih didukung dengan kenyataan bahwa
seringnya Katie bangun di tengah malam untuk bermain bersama sahabat
khayalannya, Toby. Dennis akhirnya memutuskan untuk meletakkan beberapa
kamera video di berbagai tempat di rumah tersebut guna merekam setiap
momen yang terjadi. Dan seperti yang dapat diduga, kamera video Dennis
kemudian merekam berbagai hal yang aneh yang mungkin terlihat tidak
wajar bagi banyak orang. Seiring dengan semakin banyaknya
kejadian-kejadian supranatural yang terjadi dalam kehidupan keluarganya,
Dennis mulai menyusun rencana untuk menyelamatkan Julie, Kristi dan
Katie dari gangguan-gangguan supranatural yang datang dari rumah mereka.
Mereka yang mengharapkan untuk kembali mendapatkan momen-momen menakutkan seperti yang pernah disajikan oleh Paranormal Activity terdahulu, sepertinya akan dapat dengan mudah merasa terpuaskan dengan Paranormal Activity 3. Di tangan Henry Joost dan Ariel Schulman, naskah cerita Paranormal Activity 3
mampu hadir dengan tingkat intensitas yang begitu terjaga dan semakin
meningkat seiring berjalannya durasi film. Puncaknya, di 30 menit akhir
film, Joost dan Schulman mampu menghadirkan tingkat kengerian yang
begitu memuncak bagi film ini yang sekaligus menjadikan Paranormal Activity 3 sebagai seri terbaik sekaligus yang paling menakutkan dari seluruh seri yang ada di franchise ini.
Pun begitu, Paranormal Activity 3
sama sekali tidak datang tanpa masalah. Naskah cerita film ini
sangatlah terbatas perkembangannya. Berbagai pertanyaan standar yang
muncul semenjak seri pertama film ini dirilis (Kenapa para karakter di
film ini tidak langsung keluar dari rumah tersebut? Kenapa satu karakter
mampu merekam setiap momen dengan kamera videonya?) masih belum (dan
tidak akan) terjawab di seri ini. Faktor-faktor menarik dalam film ini
hadir karena kemampuan Joost dan Schulman untuk menata setiap kejutan
yang hadir dalam jalan cerita Paranormal Activity 3 untuk tetap
mampu bekerja dengan baik dalam menakuti setiap penontonnya. Begitu
juga dengan deretan karakternya. Digambarkan dengan seadanya dan
ditampilkan dengan kualitas yang sama oleh para pemerannya. Aktris
cilik, Chloe Csengery, yang memerankan karakter Katie, mungkin adalah
pemeran yang paling menonjol dalam Paranormal Activity 3 mengingat porsi perannya yang luas dan cukup esensial. Csengery juga mampu memberikan kengerian tersendiri dalam penampilannya.
Secara keseluruhan, Paranormal Activity 3 adalah sebuah kemajuan yang sangat pesat jika dibandingkan dengan Paranormal Activity 2 yang berjalan terlalu datar tersebut. Bahkan, untuk beberapa bagian, Paranormal Activity 3 mampu menjangkau wilayah kengerian yang sebelumnya belum pernah disentuh oleh Paranormal Activity.
Walau hadir dengan naskah cerita dan karakterisasi yang sangat
minimalis, sentuhan Henry Joost dan Ariel Schulman dalam menata setiap
faktor kejutan di jalan cerita film ini mampu menjadikan Paranormal Activity 3 bekerja dengan baik bagi para penggemar film horor manapun. Dengan mudah, Paranormal Activity 3 adalah seri terbaik dalam franchise Paranormal Activity.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar